Senin, 09 Mei 2011
Cintaku digantung Tak Bertali (FARID ARISTA MARZUK)
Dalam sebingkis cerita. . . . .
Kuuraikan sebuah kisah. . . . .
Tentang “ Penyesalanku Sebagai Pria Penipu”
Kuawali cerita dari sebuah puisiku yang berjudul “maaf”
Begini isinya ! ! !
Cairan sedih
Menggenangi bola mataku pagi ini
Hembusan nafasku diiringi banyak sesal
Lepas malam tadi
Itu karena aku mengabaikan semua kesempatan
Yang diberikan semua orang
Yang pernah mencintaiku,
Menungguku untuk mencintanya
Tapi semuanya bertolak dari yng semula
Sekarang aku menginginkan mereka semua
Walau tak ada yang istimewa
Mereka tak mungkin membukakan jendela untukku
Walau kutahu
Cairan ini takkan mampu
Merubah semuanya
Aku hanya bisa menangis….
Tulisan ini merupakan gambaran penyesalanku waktu itu. Aku tak ingin lagi untuk mengulanginya.
Aku fachri, usiaku saat ini 16 tahun, aku seorang pelajar di sebuah sekolah internasional di kota yang dilalui sang equator, Pekanbaru. Aku merasa dilahirkan ke dunia ini sebagai lelaki yang cukup beruntung walau orang tuaku bukanlah penjabat atau pengusaha seperti kebanyakan orang tua kerabat-kerabatku, yang disibukkan oleh kesibukan mereka.karena orang tuaku begitu sayang kepadaku dan mereka ingin melihat aku tidak menjadi seperti mereka yang susah.
Sebenarnya aku ini seorang yang cerdas, tapi tidak pintar sehingga aku mempunyai banyak kelebihan walau aku sering di rundung banyak masalah. Dan aku juga bukan seorang yang baik dan juga bukan orang jahat karena aku adalah jari tengah yang tak bisa ke mana-mana. Terkadang aku menjadi penasehat bagi teman-temanku, tak jarang ideku yang sepele berbuah manis dan bermanfaat besar bagi mereka yang menyepelekanku.
Bermula sejak tamat dari pondok pesantren, aku sudah mengerti yang namanya mencinta dan dicinta. Tapi sayangnya sampai saat ini aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Mungkin karena kejadian itu. Aku mendafatar di sekolah yang punya nama besar ini selain memang untuk mencari ilmu dan mencari teman. Tujuan lainku adalah karena aku ingin selalu dekat dengan Nindy, seorang wanita yang tak begitu istimewa, namun sempurna di hatiku karena dia seorang yang soleha dan baik serta lumayan cantik. Dia juga mendaftar di sekolah yang sama dikelas tes yang sama. Mungkin karena belum rezekinya, Nindy tidak diterima karena tidak lulus tes di sekolah ini.
“lulus Fachri?, tanyanya padaku
“iya !, emangnya Nindy nggak lulus ya?”kembali aku bertanya
“yah begitu lah!” jawabnya sambil bercanda
Perasaan sedih bercampur dengan perasaan iba menyelimuti hatiku saat itu, mau dibagaimanakan lagi?. Allah sudah bertakdir lain terhadapnya. Semenjak itu aku aku memperhatikan dan mempedulikan nya walau kami tak se-alamat. Setidaknya ada satu huruf yang kukirimkan ke telepon genggamnya dalam sehari sebagai penawar rindu walaupun tak dibalas dalam sehari.
Hal seperti ini kujalani Sembilan bulan lebih lamanya, sebanyak tanggal lahirku dan dan tanggal lahirnya dijumlahkan(Nindy lahir pada 3 juli 1994, sedangkan aku 6 juli 1994) selama itu pula aku menyimpan rasa yang tak mampu kuungkapkan pada Nindy. Ku cari tahu apa yang dia ingi dan yang dia butuhkan, lalu aku penuhi walau dia tidak memintaku untuk memenuhinya. Semuanya kulakukan demi dia yang kucinta.
Terik matahari mengeksploitasi kulit legamku,menjamah apa yang tak mampu untuk kujuamah, kucoba mendeskripsikan semua. Yang kudeskripsikan
malah tersparatis oleh keindahan. Sejuta puisi kuciptakan untuknya. Aku rela keadaan ini menimpaku sekali lagi hanya untuk mendapatkan Nindy, semua kukorbankan untuknya.
Selama aku dekat dengan Nindy, tercatat dalam memoriku lima orang yang kutahu ingin memilikiku. Tapi aku malah mengabaikan mereka semua. Karena mereka tak mau mengungkapkannya. Hanya ada satu orang yang berani mengatakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan itu kepadaku. Namanya Firly (sesungguhnya waktu itu aku tak tahu dan tak kenal siapa dia dan yang mana orangnya, makanya aku bilang aku tak pernah pacaran). Dia satu sekolah denganku sebelum aku bersekolah disini.
Suatu sore yang menggerahkan, sore yang selalu ingin untuk kulupakan. Terjadilah percakapan yang mendebarkan walau hanya dalam sebuah pesan lewat SMS antara aku dan Firly.
“Fachri, Firly boleh bilang sesuatu nggak?” Tanya firly padaku
“apa tu fir?” tanyaku kembali
“sebenarnya sudah dari MTs dulu Firly pendam rasa ini sama Fachri!” katanya terhenti
“maksudnya rasa apa yah?” tanyaku penasaran
“firly sayang sama Fachri!” katanya lagi
“sama dong”sambungku bohong
Tanpa basa-basi lagi, langsung saja kuterima cintanya sebagai perempuan cadangan dalam hidupku. Aku buat semuanya seperti ini karena aku tak mau cintaku digantung tak bertali oleh nindy. Dosa yang amat sangat besar kuperbuat kepada orang yang begitu menyayangiku, betapa bodohnya diriku waktu itu. Ketika Firly bertanya kepadaku perihal apakah aku tahu siapa dia sesungguhnya atau tidak, aku menjawab aku kenal dan aku sayang, begitu seterusnya tanpa ia menaruh rasa curiga. Padahal aku masih mengejar cintanya Nindy selama itu. Terkadang dalam otakku terlintas sesuatu, apakah aku tidak akan kena karma? Masa bodoh, yang penting senang aku mempermainkan wanita sebelum aku dipermainkan.
Sejak saat itu aku menjalani hari-hari indah bersamanya yang selalu ingin untuk kulupakan, semua tentang cerita buram serta kusam dalam hidupku. Aku dan Firly melaluinya dengan sejuta kata-kata indah nan selalu hadir dalam LCD Hand Phone yang kami pegang. Mungkin ini yang terakhir, itu yang terbesit di hatiku. Kulewati semua walaupun aku masih sangat mencintai Nindy, wanita yang menghancurkan segala yang indah yang aku punya.
Suatu sore di bulan yang penuh dengan berkah, bulan Ramadhan aku nertemu dengan Nindy yang sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Kutatap indah bola matanya. Tapi apa yang terjadi malah dia mengacuhkanku seolah dia tak mau dan tak pernah kenal denganku. Tak menyangka aku, wanita yang selama ini selalu aku damba-dambakan di dalam percintaan tak pastiku bersama Firly ternyata menganggap aku ini seperti buku gambar yang bisa ia warnai dengan warna kesukaannya.
Setibanya aku di rumah, tanpa melepas apa yang menggantung di tubuhku langsung aku merebahkan tubuhku dan berbaring dengan diiringi tangisan dahsyat dari kekecewaanku. “apapun ka kulakukan, kuingin lupakan” mungkin lirik lagu ini menggambarkan apa yang ada dalam perasaanku saat itu. Tapi walaupun aku kecewa, aku tidak bisa membuang rasa cintaku padanya. Sungguh sialan.
Malam harinya aku pergi ke rumah sahabat Nindy, Liana, yang kebetulan satu sekolah dengannya. Aku mengaadukan apa yang kualami sore itu.
“Na, aku boleh curhat nggak?” tanyaku membuka pembicaraan.
“ada apa Fachri?”kembali Liana bertanya padaku.
(Kuceritakan apa yang kualami semuanya. Ternyata dia juga ikut sedih dan menangis karena Liana menganggapku sudah sebagai adik yang ia sayangi).
“yang sabar ya Ri!” katanya menenangkanku.
“makasih ya Na!” balasku
(Setelah berbicara masalah ini panjang lebar, terlintas di fikiranku bahwa semua ini karena Firly yang membuat semuanya seperti ini. Langsung aku telpon Firly)
“sayang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!” kataku membuka pembicaraan
“mau ngomong apa sayang ?” sambutnya mesra
“selama aku pacaran sama kamu banyak hal sial yang aku alami !, mungkin karena aku pacaran sama kamu, kita putusya?” jawabku tanpa basa-basi lagi
“lagi becanda ya yang?”tanyanya becanda
“aku serius Firly!” jawabku lagi
“kau kira aku ni pembawa sial ha?, ingat sama kau ya karma berlaku!” tutupnya berang sambil menutup telepon.
Tanpa sepengetahuanku Liana mendengar pembicaraan kami, aku dan Firly.
“siapa Ri?” yanya Liana
(kujelaskan semuanya, antara aku dan Firly. Dan setelah itu Liana mencoba menelpon Nindy).
Dalam percakapan Liana dan Nindy, Liana menanyakan tentang perasaan Nindy terhadapku. Ternyata Nindy tidak menyimpan rasa apa-apa terhadapku. Betapa hancurnya hatiku mendengar jawaban Nindy dari pertanyaan Liana. Kukira memutuskan Firly adala membuang sial, ternyata semuanya bertolak belaang dengan apa yang kufikirkan. Aku kehilangan semua orang, baik yang aku cintai maupun yang mencintaiku.
Betul kata orangtuaku bahwa penyesalan selalu datang di akhir, yang membuat hidupku senantiasa dalam kesialan sejak malam itu karena karma yang diancamkan Firly. Semenjak saat itu aku tak mau lagi memainkan wanita walau dalam keseharianku aku bergaul dengan wanita. Dan walaupun aku ingin melupakan semuanya, aku tak akan melupakan malam itu dan cintaku tetap selalu untuk Nindy.
Sekarang aku punya dua sahabat yang orang sering menjuluki kami THREE FACH ( Fachri, serta sahabatku fachres dan fachmi). Kami satu sekolah dan satu kelas serta duduk di tempat yang jauh dari guru. Fachres adalah seorang yang humoris yang kata-kata yang terucap dari bibirnya tak jarang membuatku tertawa. Sedangkan Fachmi adalah seorang guru psikologis bagiku yang akan menghilangkan gangguan kejiwaan dalam diriku. Mereka selau ada disetiap kesedihan dan kebahagiaanku, sahabat yang selalu menghiburku, menolongku, menasehatiku. Dan satu lagi, mereka adalah sahabat yang yang kan selalu kuingat sepanjang hayatku.
Aku takkan lagi mempermainkan wanita sahabat !!!
Aku janji !!!
Aku menyesal !!!
Maafkan aku ya Firly !!!
Cintaku selalu untukmu Nindy……………
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar