Pada hari rabu tanggal 06-07,sekitar 1994 di rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil yang berada di desa Lereng, Kuok, kabupaten Kampar letak desa ini di sekitar bumi lancing kuning, Riau. Rumah yang cukup menampung hidup tiga kepala manusia dilahirkan untuk menjalani hidup yang akan dihadapinya nanti kelak ia dewasa.Lahir sebagai anak pertama, ia menjadi begitu disayang kedua orangtuanya. Ditambah lagi dia lahir dengan sehat tanpa ada kekurangan (cacat). Farid Arista Marzuk. Ya, itu nama sang bocah yang disandang selama ia bernafas di bumi yang dibentangkan tuhannya untuk ia nikmati.
Konon,kata orangtua yang melahirkan dan merawatnya berkisah bahwa sewaktu ia kecil di datangi tamu, tamu itu tak lain tak bukan adalah penyakit “sawan”atau”ayan”. Penyakit yang pada waktu itu ditakuti setiap orangtua yang baru melahirkan bayi. Karena penyakit ini akan menyebabkan si anak yang baru lahir harus memilih dua pilihan, mati atau bodoh seumur hidupnya. Selama tiga tahun enam bulan orangtuanya mondar mandir Pekanbaru-Padang mendatangi rumah sakit dan ahli penyakit tersebut. Dan selama itu pula ia menjalani masa dimana ia disayang dan juga masa ia menjadi bocah teroris, karena nakalnya yang minta ampun.
Beranjak setelah ia berumur lima tahun, ia dimasukkan oleh ibunya ke TK Kasih Ibu dekat kampung baru neneknya. Namun, hanya tiga bulan karena ia dikurung di WC oleh salah seorang gurunya disebabkan kenakalannya. Dan setelah masuk ke dalam usia sekolah, orang tuanya menyekolahkannya di SD 008 Koto Masjid. Disana ia memiliki banyak teman dan tak jarang ia berkelahi dengan teman-temannya. Tapi, walau sering buat masalah di sekolah, kedua orangtuanya tak pernah memarahinya karena mereka memakluminya. Tak disangka oleh orangtuanya bahwa ia memiliki banyak prestasi yang ia sumbangkan untuk dirinya, orangtuanya, serta sekolahnya yang membuat orangtuanya menanam harapan besar pada sang bocah untuk merubah hidup mereka yang serba pas-pasan.
Setamat dari SD, ia melanjutkan sekolahnya di salah satu Pondok Pesantren di Pekanbaru. Di sana ia menghadapi penurunan prestasi yang begitu drstis. Namun, di sana juga ia menemukan siapa Farid Arista Marzuk sebenarnya. walau tak banyak prestasi yang ia torehkan. Tapi ia berhasil menjadi Farid yang sesungguhnya. Tiga tahun ia jalani disana bagaikan dalam penjara dan ia berusaha menelannya bagai air ludah. Walau terasa tidak enak tapi harus dijalani juga.
Dan sekarang ia harus melewati masa-masa ingin diperhatikan wanita di salah satu MAN paforit di Pekanbaru. Ditempat baru ini ia mengembangkan jati diri yang ia temukan di sekolah sebelumnya. Di secarik dan setangkai pena jiwanya tertambat, di situ ia mencurahkan isi hati, fikiran, serta perasaan yang ia pendam terhadap hidupnya meski ia bukanlah sastrawan dan juga bukan pujangga seutuhnya. Dengan untaian kata ia tutupi kekurangan prestasi anjlok akademiknya.
Semoga kalian yang membaca tahu betapa pentingnya pengorbanan walaupun itu mengorbankan rasa malu.
Tapi jangan hanya mengadu kepada selembar kertas ataupun dengan sebuah nyanyian, karena takkan ada orang yang mau berbuat untuk anda karena puisi atau lagu sedih yang anda lantunkan.
THANK's
Read more »
Konon,kata orangtua yang melahirkan dan merawatnya berkisah bahwa sewaktu ia kecil di datangi tamu, tamu itu tak lain tak bukan adalah penyakit “sawan”atau”ayan”. Penyakit yang pada waktu itu ditakuti setiap orangtua yang baru melahirkan bayi. Karena penyakit ini akan menyebabkan si anak yang baru lahir harus memilih dua pilihan, mati atau bodoh seumur hidupnya. Selama tiga tahun enam bulan orangtuanya mondar mandir Pekanbaru-Padang mendatangi rumah sakit dan ahli penyakit tersebut. Dan selama itu pula ia menjalani masa dimana ia disayang dan juga masa ia menjadi bocah teroris, karena nakalnya yang minta ampun.
Beranjak setelah ia berumur lima tahun, ia dimasukkan oleh ibunya ke TK Kasih Ibu dekat kampung baru neneknya. Namun, hanya tiga bulan karena ia dikurung di WC oleh salah seorang gurunya disebabkan kenakalannya. Dan setelah masuk ke dalam usia sekolah, orang tuanya menyekolahkannya di SD 008 Koto Masjid. Disana ia memiliki banyak teman dan tak jarang ia berkelahi dengan teman-temannya. Tapi, walau sering buat masalah di sekolah, kedua orangtuanya tak pernah memarahinya karena mereka memakluminya. Tak disangka oleh orangtuanya bahwa ia memiliki banyak prestasi yang ia sumbangkan untuk dirinya, orangtuanya, serta sekolahnya yang membuat orangtuanya menanam harapan besar pada sang bocah untuk merubah hidup mereka yang serba pas-pasan.
Setamat dari SD, ia melanjutkan sekolahnya di salah satu Pondok Pesantren di Pekanbaru. Di sana ia menghadapi penurunan prestasi yang begitu drstis. Namun, di sana juga ia menemukan siapa Farid Arista Marzuk sebenarnya. walau tak banyak prestasi yang ia torehkan. Tapi ia berhasil menjadi Farid yang sesungguhnya. Tiga tahun ia jalani disana bagaikan dalam penjara dan ia berusaha menelannya bagai air ludah. Walau terasa tidak enak tapi harus dijalani juga.
Dan sekarang ia harus melewati masa-masa ingin diperhatikan wanita di salah satu MAN paforit di Pekanbaru. Ditempat baru ini ia mengembangkan jati diri yang ia temukan di sekolah sebelumnya. Di secarik dan setangkai pena jiwanya tertambat, di situ ia mencurahkan isi hati, fikiran, serta perasaan yang ia pendam terhadap hidupnya meski ia bukanlah sastrawan dan juga bukan pujangga seutuhnya. Dengan untaian kata ia tutupi kekurangan prestasi anjlok akademiknya.
Semoga kalian yang membaca tahu betapa pentingnya pengorbanan walaupun itu mengorbankan rasa malu.
Tapi jangan hanya mengadu kepada selembar kertas ataupun dengan sebuah nyanyian, karena takkan ada orang yang mau berbuat untuk anda karena puisi atau lagu sedih yang anda lantunkan.
THANK's